Home Politik Yenny Wahid Berikan Kritik Terkait Jatah Menteri, PBNU: Kami Biasa Saja

Yenny Wahid Berikan Kritik Terkait Jatah Menteri, PBNU: Kami Biasa Saja

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Aizzudin Abdurrahman menegaskan jika pihaknya tidak pernah meminta jatah menteri ke presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurutnya, NU tidak pernah memaksa Jokowi untuk memilih anggotanya untuk duduk di kursi kabinet Jokowi-KH. Ma’ruf Amin.

“Bukan, (kami) tidak meminta-minta. Kami biasa saja,” kata Gus Aiz -sapaan akrab Aizzudin Abdurrahman- saat dihubungi, Kamis (11/7/2019), dikutip dari jpnn.com.

Gus Aiz mengingatkan bahwa NU menghormati Jokowi sebagai presiden yang memiliki hak prerogatif untuk memilih sosok yang akan membantunya di pemerintahan. Keputusan Jokowi soal siapa yang dipilih sebagai menteri tidak bisa diganggu gugat.

“Terkait jabatan menteri itu sepenuhnya hak prerogatif Presiden. Kami menghormati itu,” ungkap dia.

Baca Juga: Jawaban Mengejutkan Risma Tentang Tawaran jadi Menteri

Dia mengatakan, NU ialah organisasi massa yang berbeda dengan partai politik. NU tidak terlibat langsung di dalam aktivitas politik praktis.

“NU itu bukan parpol. NU ormas kebangsaan. Ormas keagamaan yang punya sejarah panjang berdirinya bangsa ini. Di sisi lain, NU tidak terjebak politik praktis,” pungkas dia.

Sebelumnya, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengingatkan agar petinggi PBNU tidak mengumbar pernyataan yang bisa diterjemahkan sebagai upaya menuntut jatah kursi menteri.

Yenny mengakui bahwa banyak warga NU yang mendukung Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019 yang lalu. Tetapi menurutnya tidak tepat jika NU ikut-ikutan meminta jatah kursi di kabinet atau membicarakan jatah menteri.

“Saya meminta petinggi-petinggi NU tidak terjebak pada retorika seolah-seolah dipahami oleh publik bahwa kita (NU) menuntut kursi kabinet dan sebagainya,” ujar Yenny seperti dikutip dari RMCO Rakyat Merdeka, Kamis (11/7/2019).

Yenny mengingatkan agar NU tidak keluar dari khitah untuk tidak berpolitik praktis. “Menghindari seolah-olah NU menuntut, ada retorika NU menuntut jumlah kursi kabinet,” katanya.
suratkabar.id

Loading...
Loading...