Home Politik Viral Petugas KPPS Bandung Tewas Diracun, Keluarga Beberkan Fakta Sebenarnya

Viral Petugas KPPS Bandung Tewas Diracun, Keluarga Beberkan Fakta Sebenarnya

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Kabar meninggalnya petugas wanita dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Bandung kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, beredar kabar bahwa Petugas KPPS 33 Kelurahan Kebon Jayanti, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, yang bernama Sita Fitriati itu tewas diracun. Namun menurut keluarga, almarhumah yang meninggal pada 8 Mei 2019 itu meninggal bukan akibat diracun melainkan karena sakit.

Melansir reportase Kumparan.com, Minggu (12/05/2019), hoaks yang beredar di media sosial itu sontak mengejutkan keluarga Sita. Kakak kandung Sita, Muhammad Rizal, memastikan kabar diracun itu tidak benar.

“Itu sama sekali tidak (benar). Tidak ada yang datang ke kita menanyai segala macam, enggak ada,” kata Rizal melalui pesan singkat, Jumat (10/5).

Rizal menjelaskan hoaks itu mulai terdeteksi karena informasi yang tak akurat. Mulai dari kesalahan usia, letak TPS, hingga foto yang dilingkari oleh si penyebar hoaks. Orang yang dilingkari dalam foto tersebut bukanlah Sita, melainkan putri dari Ketua RW 12 yang masih hidup.

“Bahwa itu kan nama Sita Fitriati, betul adik kita. Umur itu salah 21, yang sebenarnya 23 tahun. Sudah ngarang-ngarang aja itu orang, dan fotonya bukan adik kita. Kalau yang dilingkari anaknya dari Pak RW, kacau itu berita,” bebernya menjelaskan.

Baca juga: Menyibak Misteri Tragedi Pemilu 2019, Ketua IDI Angkat Bicara Soal Autopsi Jenazah KPPS

Rizal pun menambahkan, kesehatan adiknya memang sudah menurun sebelum bertugas sebagai petugas KPPS. Namun, dia mengimbuhkan bahwa saat itu Sita memang bersemangat menjalani tugas mengawal proses demokrasi. Hal itu jelas terlihat dari perilakunya yang biasanya murung dan berganti menjadi ceria.

Rizal lantas melanjutkan penuturannya. Karena sedang tidak sehat, Sita kerap mendapat keringanan saat menjalankan tugas sebagai petugas KPPS. Contohnya, jika kawan-kawannya pulang pukul 02.00 dini hari, maka Sita diperbolehkan pulang pukul 23.00 malam.

“Sebelumnya sakit, cuma dia tidak pernah mengeluh sakitnya apa. Jauh sebelum pemilu juga sudah agak kurang sehat sepertinya,” ujar Rizal.

Keluarga Tolak Visum

Rizal mengatakan, adiknya sempat mendapat perawatan di rumah sakit selama tiga hari sebelum akhirnya berpulang.

“Sebelum meninggal di rumah sakit selama tiga hari. Di rumah sakit juga enggak ada pemeriksaan,” ungkap dia.

Mengenai hoaks tentang kematian Sita, Rizal menyebut pihak keluarga mengetahui melalui grup WhatsApp kerabat. Rizal menjadi cemas jika hoaks itu kemudian dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab demi kepentingan politik.

“Kita khawatirnya di musim politik, Sita juga petugas KPPS kebetulan dan malah dibikin gini,” sahutnya lagi.

Menurut Rizal, hari ini dirinya melaporkan hoaks tersebut ke Polsek Kiaracondong dan Polrestabes Bandung. Dia pun menandaskan, pihak keluarga tak mengizinkan adiknya divisum.

“Tidak perlu dan tidak mengizinkan, karena kami selaku keluarga menyaksikan sendiri bagaimana kondisi adik kami. Kalau pun mau info mengetahui penyakitnya, kan bisa langsung minta ke rumah sakit,” tegas sang kakak kemudian.
suratkabar.id

Loading...
Loading...