Home Politik Sebut ‘Thanos’ dalam Pidato di Forum Ekonomi Dunia, Siapa yang Dimaksudkan Jokowi?

Sebut ‘Thanos’ dalam Pidato di Forum Ekonomi Dunia, Siapa yang Dimaksudkan Jokowi?

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Ada yang menarik dalam pidato pembukaan oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo (Jokowi) di Forum Ekonomi Dunia (WEF on ASEAN) kemarin, Rabu (12/09/2018), Hanoi, Vietnam. Suasana menjadi lebih cair lantaran di bagian akhir, Jokowi menyinggung tokoh ‘Thanos’. Thanos sendiri diketahui merupakan karakter yang menjadi musuh utama para Avenger dalam film Infinity War.

Jokowi berpidato dengan menggunakan analogi film superhero garapan Marvel, Avengers: Infinity War untuk memudahkan audience memahami sudut pandangnya. Selain agar mudah dimengerti, Jokowi tampaknya ingin mengendurkan ketegangan yang terjadi akibat ancaman “perang dagang tanpa batas”.

“Kita harus mencegah perang dagang agar tidak menjadi perang tanpa batas,” ucapnya, dilansir dari weforum.org, Jumat (14/09/2018).

Dalam perang dagang ini, Presiden RI kemudian menganalogikan dirinya sebagai bagian dari Tim Avengers yang siap melawan Thanos. Mendengar hal itu, para hadirin di Nation Convention Center, Vietnam langsung tertawa dan bertepuk tangan, demikian menukil laporan reportase Kumparan.com.

Lantas siapa Thanos yang dimaksud Jokowi?

Baca juga: Seberapa Besar Kemungkinan Indonesia Terkena Krisis Ekonomi?

“Maaf saya telah membuat Anda semua bingung. Thanos yang saya maksud bukanlah individu. Thanos adalah sebuah kepercayaan yang salah bahwa untuk mencapai keberhasilan bagi kita, yang lain harus mengalah,” tukas Jokowi, sebagaimana dikutip dari laporan Liputan6.com.

Sebagaimana kata Jokowi, Thanos tak mengacu pada negara atau individu tertentu. Thanos merupakan perwujudan dari keyakinan keliru tentang pemahaman sumber daya terbatas yang memicu perang dagang.

“Thanos percaya bahwa sumber daya planet itu terbatas. Kenyataannya adalah sumber daya yang tersedia untuk manusia tidak terbatas,” paparnya.

Hal itu yang membuat Thanos menghapus setengah dari populasi manusia. Sehingga separuh yang masih hidup bisa menikmati dua kali lipat sumber daya per kapita.

“Tapi ada kesalahan mendasar dalam asumsinya itu,” imbuh Jokowi.

Pak Presiden lalu mencontohkan perkembangan terkini soal kemajuan teknologi yang menciptakan efisiensi yang semakin tinggi. Kemajuan itu memberi kemampuan untuk memperluas sumber daya lebih jauh dari sebelumnya.

Ekonomi Bukan Ajang Peperangan

Menurut Jokowi, ekonomi bukan ajang peperangan untuk menentukan pemenang dan pecundang. Itulah sebabnya, negara-negara harus berdagang dengan adil dan sejahtera secara bersama-sama.

Ia kemudian melanjutkan bahwa Thanos adalah persepsi yang keliru—di mana pola pikir seseorang mempercayai bahwa untuk meningkatkan pendapatannya berarti harus mengurangi pendapatan pihak lain. Pemikiran yang berasal dari rasa ketidakcukupan dan saling berebutan.

“Karena itu, infinity war (perang tanpa batas) bukanlah semata perang dagang yang kita alami. Tapi ini berarti setiap dari kita harus belajar lagi tentang sejarah, bahwa dengan kreativitas, energi, kolaborasi dan kemitraan, kita sebagai manusia dapat menikmati kelimpahan,” demikian ia menegaskan.

Jokowi kemudian melanjutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari negara-negara ASEAN tentunya juga dapat berbagi dan menghasilkan sumber yang tak terbatas—bukannya “perang yang tak terbatas”.

Disambut Baik Hadirin

Pidato Jokowi  ini mendapat sambutan yang baik dari pemimpin-pemimpin dunia yang hadir. Pidato itu memberi sudut pandang positif kepada negara lain dalam menyikapi perang dagang.

Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat China, Hu Chunhua,  memiliki pesan serupa dalam pidatonya. Meski tanpa referensi superhero, Chunhua setuju dan akan menjunjung tinggi aspek keterbukaan dalam perang dagang.

“Kita perlu menjunjung keterbukaan dan saling menguntungkan. Isolasi diri tidak akan mengarah ke mana pun,” tuturya.

Diketahui sebelumnya, China saat ini sedang terlibat perang dagang dengan Amerika Serikat. China membalas perdagangan tarif yang dikenakan oleh Presiden AS Donald Trump dengan pungutan sendiri atas barang termasuk kedelai Amerika.

Yang ironis, perang dagang kedua negara itu berdampak buruk bagi negara-negara lain termasuk negara ASEAN yang mana Indonesia menjadi bagian darinya.
suratkabar.id

Loading...
Loading...