Home Politik Satu-satunya Wanita di Meja Perundingan Trump-Kim Jong-Un, Siapa Dia?

Satu-satunya Wanita di Meja Perundingan Trump-Kim Jong-Un, Siapa Dia?

0
SHARE

RAKYAT JAKARTAAda kisah yang menarik perhatian publik dalam proses perundingan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un di Singapura,. Pertemuan bersejarah di Singapura itu diwarnai oleh kemunculan satu-satunya wanita di meja perundingan dua tokoh penting dunia tersebut. Perannya disebut cukup besar dalam kesuksesan pertemuan puncak Kim dan Trump. Siapa dia?

Mengutip reportase Tempo.co, Rabu (13/06/2018) wanita yang hadir untuk menemani Trump itu bernama Lee Yun-hyang (61). Ia menjabat sebagai kepala divisi layanan penerjemahan di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Diketahui, Lee menjadi satu-satunya wanita di ruangan selama proses perundingan di Capella Hotel, Pulau Sentosa, Singapura.

Lee disebut sebagai tokoh penting dalam pertemuan diplomatik Amerika Serikat. Sebelumnya, diketahui bahwa jasanya juga pernah digunakan oleh pemerintahan George W. Bush dan Barack Obama di masa lalu.

Lee yang lahir di Korea Selatan ini mulai bekerja di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat sebagai penerjemah senior diplomatik pada 2008. Hingga kemudian ia pun menjadi kepala cabang umum Interpreting Division.

Didiskriminasi Hingga Menyuarakan Prinsip Feminisme

Dia yang juga dikenal karena kerap menyuarakan prinsip-prinsip feminisnya di masa lalu ini memilih untuk membesarkan putrinya di Amerika. Putusan tersebut dipilihnya setelah ia mengalami diskriminasi terhadap perempuan di Korea.

Baca juga: Puja dan Puji Trump untuk Kim Jong-Un: Dia adalah Pria yang Sangat Berbakat

“Saya tidak dapat membesarkan anak perempuan saya di negara yang sangat membeda-bedakan perempuan,” tandas Lee ketika itu.

Sebelum hijrah ke Negeri Paman Sam, Lee sempat menyelesaikan studi sarjananya di Universitas Yonsei di Seoul. Sebelumnya, ia menghabiskan tiga tahun di sekolah internasional di Iran selama periode sekolah menengahnya.

Dia juga sempat bekerja sebagai reporter untuk koran Korea Selatan berbahasa Inggris, Yonsei Annals.

Lee kemudian memperoleh gelar master dari Hankuk University of Foreign Studies ‘Graduate School of Translation and Interpretation. Dia lantas mengajar di Sekolah Pascasarjana Penerjemahan dan Interpretasi di Institut Studi Internasional Monterey selama delapan tahun.

Pada 2004, Lee melanjutkan mengajar dan memimpin pusat penerjemahan dan interpretasi di Ewha Graduate School of Translation and Interpretation di Seoul. Selama periode ini, Lee memperoleh gelar doktor dalam interpretasi di Sekolah Penerjemahan dan Interpretasi, Universitas Jenewa, Swiss.

Belum lama ini Lee menyatakan keinginannya untuk menulis buku tentang interpretasi dan memoir dari banyak perjalanan dan pengalamannya dalam berbagai budaya.

Dalam pertemuan antara Donald Trump dan Kim Jong Un di Singapura, Lee Yun-hyang bersama dengan penerjemah Korea Utara, Kim Ju-song dari Kementerian Luar Negeri menjadi 2 tokoh kunci. Pasangan ini menarik banyak perhatian mengingat Lee merupakan satu-satunya orang yang mengetahui isi penuh dari pertemuan pribadi antara kedua pemimpin.

4 Wanita dalam Rombongan Kim Jong Un

Tak terelakkan saat ini mata dunia internasional tengah tertuju pada pertemuan bersejarah Trump dan Jong Un. Rombongan Korea Utara yang tiba di Singapura itu terdiri dari sejumlah pejabat tinggi serta staf keamanan langsung dari Korea Utara. Namun Kim Jong Un juga membawa sejumlah wanita dalam rombongan dan pejabat senior Korea Utara tersebut.

  1. Kim Yo Jong

Perempuan yang ikut rombongan adalah Kim Yo Jong, yang tak lain adik perempuan Kim Jong Un dan diperkirakan berusia akhir 20-an atau awal 30-an. Posisi dalam pemerintahan Korea Utara adalah pejabat Partai Pekerja yang bertanggung jawab untuk urusan propaganda. Banyak ahli dari luar percaya bahwa dia telah menjadi pejabat nomor 2 di negara yang diperintah dinasti Kim selama tujuh dekade.

Dilaporkan dalam Associated Press, Selasa (12/06/2018), Kim Yo Jong dilaporkan ikut rombongan ke Singapura namun dalam rombongan terpisah dari Kim Jong Un dengan spekulasi untuk antisipasi jika salah satu pesawat mengalami kecelakaan.

  1. Choe Son Hui

Kemudian Choe Son Hui, yang merupakan seorang Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, adalah diplomat perempuan dengan jabatan tertinggi di Korea Utara yang ikut rombongan Kim Jong Un. Sebelumnya, ia bekerja sebagai penerjemah bahasa Inggris untuk delegasi Korea Utara saat menghadiri pembicaraan pelucutan senjata nuklir yang melibatkan enam negara.

Pada Senin (11/06/2018), ia bertemu diplomat senior Amerika Serikat, Sung Kim di hotel Ritz-Carlton untuk membuat persiapan akhir KTT.

  1. Hyon Song Wol

Hyon Song Wol adalah ketua grup penyanyi Moranbong Korea Utara yang sangat populer, dan anggotanya dipilih langsung oleh Kim Jong Un. Dia juga memimpin rombongan seni Korea Utara yang dikirim ke Korea Selatan selama Olimpiade Musim Dingin Februari lalu di Pyeongchang.

  1. Kim Sung Hae

Kim Sung Hae merupakan direktur departemen di Departemen Front Bersatu Korea Utara, organisasi Partai Buruh yang menangani hubungan antar-Korea. Dia juga menghadiri pertemuan dengan diplomat Amerika Serikat pada Senin di Hotel Ritz-Carlton.

Selain empat wanita di yang ikut rombongan, salah satu pejabat pria paling dipercaya Kim Jong Un yakni, Kim Yong Chol, yang juga ikut dalam rombongan. Dia menjadi pejabat paling senior Korea Utara dalam rombongan tersebut. Kim Yong Chol, 72 tahun, telah menjadi penasihat kebijakan Kim Jong Un yang paling terpercaya sejak pemimpin Korea Utara memulai serangan perdamaian dengan AS dan Korea Selatan pada Januari.

Dia menemani Kim Jong Un pada empat pertemuan tingkat tinggi, dua kali dalam pertemuan dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in dan dua kali dengan Presiden Cina, Xi Jinping. Kim Jong Un juga mengirim Kim Yong Chol ke Amerika Serikat untuk menyerahkan surat kepada Trump, membuatnya menjadi pejabat paling senior Korea Utara yang mengunjungi Amerika Serikat. Kim Yong Chol pernah menjabat sebagai kepala intelijen dan diyakini berada di balik dua serangan pada 2010 yang menewaskan 50 warga Korea Selatan.
suratkabar.id

Loading...
Loading...