Home Politik Partai Demokrat Wacanakan Duet JK-AHY di Pilpres 2019, Mungkinkah?  

Partai Demokrat Wacanakan Duet JK-AHY di Pilpres 2019, Mungkinkah?  

0
SHARE

 

RAKYAT JAKARTADemi kepentingan politik di Pilpres 2019, Partai Demokrat mendorong duet Jusuf Kalla (JK)-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk diwujudkan dalam Koalisi Kerakyatan. Mungkinkah koalisi ini bisa terwujud?

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggagaskan Koalisi Kerakyatan sebagai wacana terbentuknya poros ketiga. Poros ini digadang-gadang akan menandingi Koalisi Keummatan, yang diusulkan Habib Rizieq Syihab (Gerindra-PKS-PAN-PBB), dengan koalisi pendukung petahana Presiden Joko Widodo. Poros ketiga sendiri diwacanakan tergabung antara PD, PAN, dan PKB.

“Betul. JK-AHY ini salah satu opsi yang sedang Demokrat pikirkan untuk Koalisi Kerakyatan. Ini pasangan ideal,” tutur Ketua DPP Demokrat, Jansen Sitindaon kepada awak pers pada Selasa (12/06/2018), sebagaimana dikutip dari laporan Detik.com, Rabu (13/06/2018).

Ketua Divisi Komunikasi Publik Imelda Sari merinci alasan mengapa partainya mempertimbangkan duet JK-AHY. JK dianggap mewakili sosok yang menguasai masalah perekonomian sekaligus mampu merangkul umat, sementara AHY dinilai sebagai tokoh muda yang bisa menggaet pemilih dari generasi milenial.

“Sebagai seorang Senior politisi dan pemimpin di negeri ini sosok Pak JK mewakili bukan hanya Indonesia Timur, tetapi juga sosok Pemimpin yang sangat paham tentang ekonomi, sosok Islam yang moderat dan juga punya hubungan baik dengan Negara Negara Islam dan Barat,” ungkap Imelda secara terpisah.

Baca juga: Cak Imin: Koalisi Kerakyatan Gagasan Demokrat Sangat Sulit Terbentuk

“Jika dipadukan dengan Mas Agus Yudhoyono yang muda, Jawa, berenergi dan punya wawasan kebangsaan juga pemahaman yang baik tentang situasi geo-politik dan berwawasan internasional serta dekat dengan generasi milenial maka perpaduan ini akan bagus,” imbuhnya.

Diyakini Imelda, Koalisi Kerakyatan pada akhirnya akan terbentuk. Menurutnya, perkembangan dinamika politik berkenaan Pilpres 2019 akan semakin menemukan titik terang usai Pilkada Serentak akhir Juni nanti.

“Karena belum ada satupun Parpol yang menunjukkan akan berkoalisi secara resmi, semua masih menunggu pasangan calon yang akan diajukan Koalisi dalam Pilpres nanti,” imbuh Imelda.

PAN dan PKB Bersikap Dingin

Sementara itu, PAN dan PKB masih bersikap dingin dalam menanggapi usulan Demokrat soal duet JK-AHY. Namun Imelda cukup optimis poros ketiga di Pilpres 2019 ini akan terwujud.

“Sejauh ini pembicaraan terkait Poros Ketiga cukup intens baik dengan PAN maupun PKB,” lanjutnya kemudian.

Lebih lanjut, PKB sudah menanggapi wacana untuk menduetkan JK-AHY. Menurut Wasekjen PKB Daniel Johan, partainya masih fokus untuk mewujudkan agar sang ketum, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menjadi pasangan bagi Jokowi.

“Belum ada perubahan. Posko JOIN terus bertambah di desa-desa, kita yakini hal ini selain akan menambah elektabilitas PKB, juga membantu menaikkan elektabilitas Jokowi,” ujar Daniel.

Adapun PAN menyatakan masih fokus untuk mengusung kader sendiri di Pilpres 2019. Saat ini PAN masih menyiapkan empat nama elitenya untuk menjadi capres, termasuk sang Ketua Dewan Kehormatan, Amien Rais.

“Sejauh ini, PAN belum membicarakan Poros Kerakyatan ini. Kami masih fokus mengusung kader sendiri sembari menyukseskan pilkada dan mempersiapkan pileg yang akan datang,” ungkap Wasekjen PAN, Saleh Partaonan Daulay, saat dikonfirmasi pada Selasa (12/06/2018).

Perwujudan Duet JK-AHY

Terpisah, Rico Marbun selaku Direktur Eksekutif Median menilai, duet antara JK dan AHY bisa terwujud. Namun JK akan lebih baik maju melalui partainya sendiri, Golkar untuk berkoalisi dengan Demokrat. Golkar sendiri telah mendeklarasikan mendukung Jokowi.

“Secara prosedural, skenario ini bisa masuk. Kalau JK bisa memastikan tiket dari Golkar, yang artinya Golkar harus pisah dari Jokowi, dan ditambah dengan suara Demokrat, tentu cukup,” beber Rico dalam perbincangan di Selasa (12/06/2018) malam.

Sosok JK-AHY pun dianggap mewakili representasi demografis dan kompetensi pemilih. JK yang kini menjabat sebagai wapres dinilai mewakili sosok yang berpengalaman di bidang pemerintah. Sementara AHY diprediksi bisa menjadi wajah baru yang penuh semangat untuk merangkul kaum muda.

“Pasangan ini bisa jadi representasi 2 hal. Tua-muda, pengalaman-semangat, sipil-militer, luar Jawa- Jawa, jadi representasi demografis dan kompetensi cukup terwakili. Hanya saja jika koalisi ini terbentuk, Jokowi akan kehilangan partner yang cukup kuat yaitu JK,” papar Rico menganalisa.

Dari sisi keterpilihan, JK dan AHY juga dinilai cukup mampu dan mumpuni.  Mengacu dari berbagai survei elektabilitas, tambah Rico, nama keduanya masuk di jajaran yang cukup unggul.

“JK dan AHY selalu masuk 10 besar elektabilitas capres. Hanya saja keseriusan JK untuk masuk gelanggang masih diragukan banyak orang,” tuturnya kemudian.

Soal kemungkinan Golkar keluar dari koalisi Jokowi untuk mengusung JK bersama Demokrat, Rico menilai bukan berarti tidak mungkin. Hal ini mungkin-mungkin saja, apalagi mengingat elektabilitas Golkar belakangan ini kalah dari Partai Gerindra telah siap mengantar kembali sang ketum, Prabowo Subianto, ke Pilpres.

“Saya pikir suara Golkar adalah suara rakyat, bila arus rakyat mengganti Jokowi menguat, bukan mustahil Golkar juga ikut. Dan ada lagi pertimbangn lain, eksistensi suara partai 2019, sekarang saja suara PDIP dan Gerindra jauh melesat meninggalkan Partai lain termasuk Golkar,” tandas Rico.

“Kalau Golkar mau gambling, dengan tokohnya sendiri, mungkin elektabilitas Golkar akan membaik,” pungkasnya menutup pembicaraan.

Sebelumnya, seperti dikutip dari reportase Suara.com, Senin (12/03/2018), Wapres Jusuf Kalla (JK) menilai bahwa Pilpres 2019 sudah bukan lagi ajang bagi “tokoh-tokoh tua”. Oleh sebab itu, ia lantas mempersilakan para tokoh muda untuk maju mencalonkan diri sebagai calon presiden tahun depan.

“Aaaah, (capres) biar yang muda-muda sajalah,” ujar Wapres JK saat itu, sewaktu ditanyai pers usai meninjau Pos Yandu Permata Bunda, Banjarsari, di Manahan Surakarta Jawa Tengah, seperti diberitakan Antara, Senin (12/03/2018).

Selebihnya, saat itu JK menegaskan dukung mendukung dalam politik merupakan hal yang biasa.

“Dalam politik saling dukung mendukung memang biasa. Karena itu (parpol) berkoalisi, tidak ada orang bisa berpolitik sendirian, harus saling dukung mendukung,” beber Wapres ketika itu.


suratkabar.id

Loading...
Loading...