Home Politik Miris! Ceramah di Masjid, Ustad Ini Malah Sebar Hoaks Soal Jokowi-Ma'ruf

Miris! Ceramah di Masjid, Ustad Ini Malah Sebar Hoaks Soal Jokowi-Ma'ruf

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Seorang ustadz yang menyebarkan berita bohong alias hoax saat berceramah terpaksa diamankan oleh aparat kepolisian. Ustadz Supriyanto, demikian namanya, harus berurusan dengan hukum setelah video ceramahnya yang diduga sebagai kampanye hitam (black campaign) jadi viral di media sosial di Banyuwangi.

Sebagaimana dikutip dari reportase JPNN.com, Kamis (13/03/2019), ustadz tersebut rupanya menyampaikan ceramah bermuatan kampanye hitam mengenai calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Ir. Joko Widodo (Jokowi) dan KH Ma’ruf Amin. Berdasarkan video ceramah yang berdurasi 51 detik di Masjid Kalibaru Wetan, Banyuwangi tersebut, tampak bahwa sang ustadz terkesan menyudutkan pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin.

Kampanye hitam ini disampaikan oleh Ustadz Supriyanto di hadapan sejumlah ibu-ibu jemaah. Itulah sebabnya Ustaz Supriyanto lalu diamankan oleh Polres Banyuwangi. Bekerja sama dengan Polda Jatim, Polres Banyuwangi berhasil menangkap Ustadz Supriyanto.

Menurut Dirreskrimsus Polda Jawa Timur, Kombes Akhmad Yusep Gunawan, Ustadz Supriyanto yang dinyatakan sebagai terduga penyebar berita bohong ini akhirnya diperiksa Polres Banyuwangi.

“Dalam penyidikan, pelaku diduga menyebarkan berita bohong terkait undang-undang perzinahan yang akan dilegalkan oleh capres nomor urut satu jika menang dalam pilpres mendatang,” papar Kombes Akhmad.

Baca juga: Pemilu Makin Dekat, KPU Malah Temukan 16.000 Lembar Surat Suara Rusak

Mendengar muatan berita bohong tersebut, sudah tentu ceramah yang berkesan kampanye hitam di media sosial ini sempat meresahkan masyarakat. Dengan kondisi ini, pihak kepolisian langsung bergerak cepat dan mengamankan tersangka.

Dan kini, pelaku dijerat pasal 14 dan 15 undang-undang nomor 1 tahun 1946 tentang penyebaran berita bohong atau hoaks (hoax), dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

“Saat sekarang ini pemerintah lagi menggodok undang-undang pelegalan perzinahan. Kalau sampai itu lolos, hancur negara kita. Ini sudah digodok ini. Kalau sampai pemerintah mengesahkan undang-undang perzinahan, maka hancur Indonesia yang berdasarkan Pancasila Sila Ketuhanan Yang Maha Esa,” tukas Supriyanto dalam video tersebut, dilansir dari laporan MalangTimes.com.

Dengan viralnya video terkait, Ustadz Supriyanto akhirnya diamankan di Polsek Kalibaru, dan selanjutnya menjalani pemeriksaan di Mapolres Banyuwangi.

“Secara pribadi saya minta maaf atas statemen yang saya sampaikan hingga viral di media sosial, mudah-mudahan berikutnya tidak akan terjadi lagi,” tutur Ustadz Supriyanto usai menjalani pemeriksaan di Mapolres Banyuwangi, Selasa (12/03/2019), melansir Bidik.News.

Ustadz Supriyanto menjalani pemeriksaan di Mapolres Banyuwangi selama kurang lebih enam jam.

Usai meminta maaf dan mengakui kesalahannya kepada awak media, Ustadz Supriyanto bergegas meninggalkan kerumunan awak media menuju mobilnya tanpa sepatah kata pun.

Dikonfirmasi awak media, Kuasa Hukum Ustadz Supriyanto, Agus Dwi Hariyanto mengatakan, sebenarnya kliennya itu bukan berbicara dihadapan relawan, itu hanya spontanitas yang terjadi karena beliau membaca beberapa artikel terkait kegundahan masyarakat yang menyangkut masalah Rancangan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Polisi Periksa 7 Orang

Lebih lanjut, mengutip Kumparan.com, setidaknya ada 7 orang yang dimintai keterangan di Mapolres.

“Mereka antara lain, dua orang yang ada di dalam video itu, yakni Ustadz Supriyanto dan Imam Suherlan serta 5 orang lain ada dari ibu-ibu dan yang berkaitan dengan video di medsos,” beber Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinar di saat konferensi pers, Selasa (12/03/2019).

Kapolres Taufik bahwa dalam pemeriksaan itu, pria yang berbicara itu ialah Ustadz Supriyanto sesuai kejadian. Hasil tindak lanjut itu prosesnyamasih terus berjalan.

“Semua masih statusnya saksi, kita lakukan pemeriksaan saksi dan termasuk pemeriksaan alat bukti lainnya. Untuk mengarah ke tersangka nanti kita lihat dari hasil pemeriksaan dan penyelidikan,” terangnya.

Meski begitu, berdasarkan isi konten video dan sesuai dengan laporan yang diterima telah mengarah ke pidana. Bahkan, laporan itu juga mengarah ke UU nomor 1 tahun 46, pasal 14 ayat 1 dan 2, pasal 15 tentang peraturan hukum pidana, 45 a ayat 2, junto pasal 28 ayat 2 UU nomor 19 tahun 2016 tentang ITE.

“Arahnya ke ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong. Kita sedang dalami fakta-faktanya,” ucapnya.
suratkabar.id

Loading...
Loading...