Home Politik Media Asing Ramai-Ramai Soroti Pemilu di Indonesia, Begini Isinya

Media Asing Ramai-Ramai Soroti Pemilu di Indonesia, Begini Isinya

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Pemilu di Indonesia yang akan diselenggarakan pada Rabu (17/04/2019) besok menjadi ramai disorot oleh berbagai media asing. Berbagai tema berkenaan kebijakan pemerintah hingga persiapan pemilu pun menjadi pembahasan. Sebagaimana diketahui, Pemilu serentak akan dilaksanakan besok, Rabu (17/04/2019). Lantas apa saja yang menjadi pembahasan sejumlah media asing terkait persiapan pemilu RI?

Dikutip dari reportase JawaPos.com, Selasa (16/04/2019), beberapa media berbahasa Jerman menyoroti isu intoleransi beragama dan pluralisme di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini.

Deutschlandfunk Kultur contohnya, mempertanyakan meningkatnya intoleransi beragama di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dengan mengambil contoh kasus penistaan agama yang melibatkan Sukmawati Soekarnoputri.

Sementara itu, Frankfurter Allgemeine Zeitung (FAZ) menyoroti Presiden Ir. Joko Widodo (Jokowi) yang pergi umroh ke Arab Saudi di masa minggu tenang dan betapa tema keagamaan kian menjadi sentral dalam dunia perpolitikan RI.

FAZ menulis bahwa selama bertahun-tahun lamanya Indonesia telah menjadi contoh agama Islam yang toleran dan juga kesinambungan antara kehidupan berdemokrasi serta beragama.

Baca juga: 682 Kotak Suara Terendam Banjir di Bogor, Begini Respon KPU

Namun sayang, dalam beberapa tahun belakangan, pengaruh aliran wahabisme dari Arab Saudi dan interpretasi para pemimpin agama yang lebih ortodoks menyebar luas di masyarakat Indonesia.

Radio dan televisi Swiss (SRF) juga menyoroti hal serupa. Koresponden mereka menyebutkan, agama di Indonesia bukanlah persoalan pribadi. SRF juga menuturkan bahwa selama masa kampanyenya Jokowi sering diserang hal-hal yang berkenaan dengan agamanya.

Soroti Tema Lingkungan dan Ekonomi

Lebih lanjut, BBC yang merupakan media berbahasa Inggris juga masih menulis masalah intoleransi beragama sebagai perhatian utama menjelang pemilu 2019 ini. Bahwa kedua kandidat Jokowi dan Prabowo berusaha sebaik mungkin untuk menampilkan citra sebagai seorang Muslim guna meraih simpati massa.

Di samping itu, BBC juga memantau betapa rumitnya hubungan Indonesia dengan China menjelang Pemilu. Di satu sisi, China memainkan peran penting dalam hubungan dagang dengan Indonesia. Namun di sisi lain, negara ini juga kurang populer di antara para pemilih.

Adapun CNBC menuliskan, para investor akan lebih merasa nyaman dengan kebijakan Presiden Jokowi dan gaya pemerintahannya.

Investor asing masuk ke pasar saham Indonesia dan membeli saham senilai sekitar Rp 10,47 triliun dalam dua bulan pertama tahun ini.

“Kemenangan Prabowo akan membawa sentimen bagi investor,” demikian diulas oleh CNBC.

Investor asing masuk ke pasar saham Indonesia dalam dua bulan pertama 2019. Mereka membeli saham bersih senilai 10,47 triliun Rupiah ($ 740,18 juta) pada bulan Januari dan Februari tahun ini, menurut bursa efek negara itu.

Aljazeera menyayangkan tema lingkungan yang kurang mendapatkan sorotan dalam masa kampanye. Padahal, media itu menuliskan, sepertiga hutan hujan di Indonesia akan menghilang pada tahun 2020 akibat penebangan ilegal dan perluasan perkebunan kelapa sawit.

Pemilu Rumit dan Kompleks

Guardian, media berbahasa Inggris lainnya menyoroti Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau dengan total jumlah pemilih sebanyak 192,8 juta. Sehingga pemilu kali ini akan menjadi pemilihan presiden secara langsung yang terbesar di dunia.

Guardian juga menyebut bahwa pemilu yang berlangsung pada tanggal 17 April itu sebagai “Pemilu satu hari yang paling rumit di dunia.”

Memang, Pemilu di India pesertanya lebih banyak. Namun secara keseluruhan di sana dilakukan selama enam minggu, jadi lebih relaks. tulis Guardian.

Bukan hanya memilih presiden, pada pemilu kali ini masyarakat juga akan memilih calon anggota legislatif di hari yang sama.

“Ini berarti pada 809.500 TPS, para pemilih akan memilih calon dari lebih 250.000 kandidat untuk 20.538 kursi legislatif di lima level pemerintahan dalam waktu hanya enam jam,” tulis Guardian.

Selain itu, media ini pun menyayangkan soal ada sekitar 1,6 juta orang suku asli di pedalaman Indonesia yang tak dapat memilih lantaran tak punya KTP.
suratkabar.id

Loading...
Loading...