Home Politik Karena Dukung Jokowi, Demokrat Pastikan Ada Sanksi Menanti TGB

Karena Dukung Jokowi, Demokrat Pastikan Ada Sanksi Menanti TGB

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Ditegaskan oleh Syarief Hasan selaku Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, akan ada sanksi bagi setiap kader yang melenceng dari kebijakan partai. Pernyataan ini berkenaan dengan dukungan Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi kepada Presiden Ir. Joko Widodo (Jokowi) untuk Pilpres 2019.

“Sanksi pasti ada karena itu akan dibahas oleh dewan kehormatan,” kata Syarief saat dikonfirmasi di Gedung DPR RI, Senin (09/07/2018). Demikian sebagaimana dikutip dari laporan CNNIndonesia.com.

Kendati manuver TGB akan dibahas di jajaran Dewan Kehormatan Demokrat, Syarief merasa hal itu bukan sesuatu yang besar bagi partai. Menurut pengakuannya, belum ada agenda khusus mengenai hal tersebut.

“Belum menjadi prioritas dibahas karena menurut kami itu efeknya tidak terlalu besar,” sambung Syarief.

Diberitakan sebelumnya, pada Rabu pekan lalu, TGB yang merupakan kader Partai Demokrat menyatakan dukungannya terhadap Jokowi. Dukungan diberikan agar Jokowi menjadi calon presiden dan melanjutkan kepemimpinannya selama dua periode.

Baca juga: Saat Gerindra Singgung Rekam Jejak Politik TGB Zainul Majdi

Dinyatakan TGB, keputusannya mendukung Jokowi telah melalui pertimbangan yang berkenaan dengan kemaslahatan bangsa, umat dan juga akal sehat.

Dalam riwayat politik TGB, pria yang masih aktif menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) ini merupakan ketua tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada pilpres 2014.

TGB diketahui berhasil membantu Prabowo-Hatta menang telak di NTB dengan perolehan suara 1,84 juta, atau sekitar 72,45 persen. Jumlah tersebut jauh meninggalkan perolehan suara Jokowi-JK yang hanya meraih 27,54 persen.

Meski begitu, Syarief menyebutkan manuver TGB sebagai sesuatu yang biasa dalam politik. Ia pun rela jika Jokowi meminang TGB sebagai cawapres.

Namun Syarief menuturkan partainya belum tentu mendukung TGB apabila dipilih sebagai cawapres Jokowi pada pilpres 2019, “Kita lihat saja nanti.”

Jokowi dan Percepatan Pembangunan di NTB

Melansir laporan Detik.com, Waketum PD Syarief Hasan mengungkapkan langkah TGB yang merupakan anggota Majelis Tinggi Partai adalah tanpa sepengetahuan DPP partai. Namun, dia tak memerinci sanksi apa yang akan diberikan ke TGB.

“Nanti tanya Dewan Kehormatan,” ujarnya singkat.

TGB punya alasannya sendiri dalam mendukung Jokowi dua periode. Penyebabnya antara lain yakni memberi kesempatan menyelesaikan tugas kepresidenannya. TGB menyoroti percepatan pembangunan di NTB, khususnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Dia khawatir pembangunan itu mandek jika ada pergantian kepemimpinan.

“Jadi keputusan apa pun itu harus mempertimbangkan kemaslahatan bangsa, umat, dan akal sehat. Keseluruhan dari tiga hal ini, menurut saya, pantas dan fair kalau kita beri kesempatan kepada Bapak Presiden Jokowi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang selama 4 tahun ini beliau mulai,” demikian TGB menjabarkan pemikirannya saat berkunjung ke redaksi Transmedia, Rabu (04/07/2018) lalu.

Taktik Pribadi TGB

Tak ayal keputusan yang dinilai kontroversial ini menimbulkan polemik di tubuh Partai Demokrat dan kalangan Islamis. Partai Demokrat menyampaikan pernyataan TGB bersifat pribadi. Sedangkan kelompok Islamis langsung mencoret sosoknya dari daftar bakal calon presiden.

Syamsudin Haris selaku Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menilai sikap politik TGB menunjukkan sisi pragmatisme politik dari seorang politisi.

Menurut penilaiannya, TGB semata-mata mengambil putusan tersebut lantaran telah melihat peluang besar dan ingin mengejar posisi atau jabatan politik tertentu dari kekuasaan Jokowi—yang dinilainya berpeluang besar memenangkan Pilpres 2019 ketimbang kandidat lainnya.

“Alasannya pragmatis, ya, Pak TGB saya pikir dia melihat peluang besar bagi dia pribadi ke depan [dengan mendukung Jokowi],” sebut Syamsudin saat menghadiri diskusi Para Syndicate, Jakarta Selatan, jelang akhir pekan.

Dijabarkan Syamsudin, para politisi pasti mempunyai semangat pragmatisme dalam dirinya masing-masing untuk meraih maupun mempertahankan kekuasaan politiknya.

Ia menambahkan, segala tindakan yang tak memberikan keuntungan bagi dirinya maupun kelompoknya pasti akan ditinggalkan sekalipun bernilai ideologis.

Terlebih lagi, imbuh Syamsudin, masa jabatan TGB sebagai Gubernur NTB dua periode akan berakhir dalam waktu dekat. Itulah sebabnya, TGB harus mempertahankan kekuasaannya dengan mencari jabatan lain di tingkat nasional ketimbang hanya regional.

“Kan, sudah tidak bisa menjadi kepala daerah lagi. Dia, kan, harus mencari peluang politik. Nah, peluang politk itu dalam kacamata dia ada bila mendukung Jokowi,” sambungnya.

Syamsudin melanjutkan, TGB tak serta-merta menginginkan jabatan calon wakil presiden dari Jokowi. Sebab, ia melihat popularitas TGB hanya bersifat lokal dan belum menjangkau skala nasional untuk menjadi cawapres.

Syamsudin lantas menilai TGB hanya mengincar jabatan strategis di level nasional seperti jabatan menteri atau selevel kepala lembaga negara.

“Paling tidak, mungkin bagi TGB bisa menjadi salah satu pejabat nanti pada kepemimpinan Jokowi pada masa bakti kedua. Entah menjadi menteri, entah menjadi apa, lah,” tukasnya.

Tak hanya itu, Syamsudin juga tak yakin bahwa suara kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia akan berpaling ke Jokowi di Pilpres 2019 sehubungan dengan dampak dukungan TGB tersebut.

Ia berpendapat, TGB bukanlah kader elite dalam Partai berlambang Bintang Mercy tersebut. Ia menyebut bahwa suara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang sesungguhnya lebih berpengaruh bagi kader Demokrat ketimbang TGB.

“Saya kira belum tentu (mengubah suara kader Demokrat). Sebab TGB enggak sowan atau minta izin. Enggak minta restu ke Pak SBY. Lebih berpengaruh suara AHY ketimbang TGB,” tandasnya.

Selain itu, Syamsudin menyebut bahwa dukungan TGB itu belum tentu mengerek elektabilitas Jokowi secara signifikan di kalangan kelompok Islam. Dia kembali menilai sosok TGB hanya populer di level regional, yakni di Provinsi NTB.

Terlebih, kelompok Islam Persaudaraan Alumni 212 menyatakan sudah mencabut dukungan mereka terhadap TGB sebagai sosok yang akan dicalonkan menjadi presiden Indonesia. Loading…
suratkabar.id

Loading...
Loading...