Home Politik Jubir OPM Buka-Bukaan Ungkap Fakta Penting di Balik Pembantaian di Nduga, Akan...

Jubir OPM Buka-Bukaan Ungkap Fakta Penting di Balik Pembantaian di Nduga, Akan Ada Perang Revolusi Total

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom buka suara terkait pembantaian di Nduga, Papua beberapa waktu lalu. Ia mengungkapkan semua fakta penting di balik penembakan para pekerja proyek PT Istaka Karya.

Dilansir dari laman Jawapos.com pada Kamis (6/12/2018), Sebby dengan tegas mengakui bahwa pihaknya bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan belasan nyawa tersebut. Elite OPM itu bahkan mengklaim bahwa para pekerja proyek yang mereka habisi adalah intelijen dari TNI.

Sabby menegaskan, sudah menjadi rahasia umum bahwa semua proyek infrastruktur jalan Trans-Papua dikerjakan oleh TNI. Sebby juga mengungkapkan, ketika penyerangan berlangsung, para pekerja melakukan perlawanan dengan senjata.

“Semua proyek infrastruktur jalan Trans-Papua yang mengerjakan TNI. Hal itu merupakan rahasia umum di Papua,” jelas Sebby yang kemudian mengirimkan sebuah video berisi pekerja-pekerja berbalut kaos loreng dipersenjatai senjata laras panjang. Mereka tampak tengah berlindung di balik kendaraan proyek.

Ada sebanyak 24 pekerja yang ditembak mati, Sabby mengatakan awal mula penyerangan berbeda dengan versi TNI dan Polri. Sebelumnya TNI dan Polri menyebut penyerangan disebabkan karena ada pekerja yang mengambil foto ketika upacara 1 Desember.

Baca Juga: 31 Pekerja Trans Papua Ditembak Mati, Budi Karya Buka Suara

“Itu kan versi TNI dan Polri. Kami menyerang secara terencana. Setahun lalu kami juga menyerang proyek pembangunan,” tutur Sabby. “Kami menyerang proyek dan sebuah pos TNI. Kami yang bertanggung jawab,” imbuhnya.

Dengan tegas ia mengaku bahwa pihaknya sama sekali tak butuh proyek yang disebut pemerintah untuk kesejahteraan rakyat Papua. “Kami tidak membutuhkan pembangunan. Yang kami butuhkan adalah kesempatan menentukan nasib sendiri dengan referendum,” tutur Sabby.

Saat ditanyai warga sipil yang menjadi korban, petinggi OPM menyatakan bukan tanggung jawabnya. “Jika mengetahui ada warga sipil, tentu kami tidak akan melukai. Bila benar ada warga sipil menjadi korban, tentunya itu tanggung jawab TNI. Selama ada TNI, kami serang.”

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya sama sekali tidak menginginkan perundingan dengan pemerintah. Jika pun harus ada perundingan, ia meminta perundingan tingkat tinggi dengan mengikutsertakan Perserikatan Bangsa-Bangsa di dalamnya.

“Tidak ada lobi. Yang ada bila mau ditempuh adalah perundingan tingkat tinggi. Dengan tiga pihak. Indonesia, TPNPB-OPM, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Perundingan segi tiga untuk menentukan nasib rakyat Papua,” jelas Sabby.

Alasan OPM begitu kekeh ingin menentukan nasib sendiri lantaran perlakuan TNI dan polisi Indonesia yang dianggap semena-mena. Tidak jarang pelanggaran Hak Asasi Manusia terjadi di Papua. Jumlah korbannya sampai mencapai angka ratusan ribu.

“TNI dan polisi Indonesia ini memperlakukan kami seperti binatang. Banyak pelanggaran HAM yang terjadi di Papua. Pada 1977, ada pembantaian 500 ribu orangtua kami. Warga Papua diberangus. Itulah mengapa kami membentuk militer,” ungkapnya kemudian.

Ditanyai kekuatan TPNPB-OPM, Sabby menjawab pihaknya memiliki 29 Komando Daerah Pertahanan (Kodap). Dan di setiap Kodap ada 2.500 anggota. Ia berani memastikan bahwa TPNPB-OPM adalah militer kelas dunia yang harus ditakuti.

Meski kalah jumlah dengan TNI, Sabby menegaskan OPM masih lebih unggul. “Mereka (TNI) boleh lebih banyak, tapi alam bersama kami. Hutan bersama kami, lembah bersama kami, dan kami tidak akan menyerah. Kami punya motto, satu butir senjata melawan seribu butir senjata.”

“Serangan kami berlanjut hingga revolusi total. Saat ini masih revolusi tahapan, serangan kecil ke titik-titik tertentu. Saat sampai revolusi tetap, semua warga non-Papua akan kami usir dari negeri ini,” pungkas Sabby dengan tegas.
suratkabar.id

Loading...
Loading...