Home Politik Istri Terduga Teroris Sibolga Meledakkan Diri, Inikah Bukti ISIS Rasuki Keluarga?

Istri Terduga Teroris Sibolga Meledakkan Diri, Inikah Bukti ISIS Rasuki Keluarga?

0
SHARE

 RAKYAT JAKARTA – Sebuah rumah di Gang Sekuntum, Jalan Cenderawasih, Kota Sibolga, Sumatera Utara, telah dikepung aparat kepolisian sejak Selasa sore  (12/03/2019). Sebelumnya, Densus 88 Antiteror juga menangkap terduga teroris Husain alias Abu Hamzah, sang kepala keluarga. Di dalam rumah berlantai dua itu, ada istri terduga teroris yang akrab dipanggil Uma Abu dan anak-anaknya. Diduga, anak-anaknya berjumlah tiga orang. Polisi tak bisa sembarangan menyerbu lantaran diduga ada bom aktif di sana. Sehingga aparat pun sengaja menjaga jarak.

Apalagi, seperti dikutip dari laporan Liputan6.com, Kamis (14/03/2019), sempat ada ledakan dari dalam bangunan itu, yang melukai setidaknya satu anggota Densus 88. Anggota Densus 88 tersebut langsung dievakuasi menggunakan bentor (becak motor). Maka upaya negosiasi pun dilakukan. Salah satunya dengan menggunakan pengeras suara di Masjid Al Mukhlisin yang  ada di dekat TKP.

“…Agar keluar dari dalam rumah, untuk menyerahkan diri kepada kami. Kami tunggu di Masjid Al Mukhlisin. Apabila saudari kami, Uma Abu, menyerahkan diri tanpa paksaan, kami tidak akan melakukan tindakan apapun pada Uma Abu,” demikian petugas polisi berulang kali mengumandangkan kalimat yang sama.

Selain itu, terduga teroris Sibolga Husain (Abu Hamzah) juga dilibatkan guna membujuk istrinya keluar. Hal itu dilakukan demi keselamatan wanita itu dan juga anak-anak mereka yang masih balita. Namun setelah 10 jam berlalu, negosiasi yang dilakukan tak kunjung berujung. Memasuki Rabu dini hari (13/03/2019) sekitar pukul 01.30 WIB, ledakan keras terdengar. Api dan asap membumbung dari rumah yang sontak hancur itu.

Seorang jurnalis yang berada 200 meter dari titik ledakan pun bahkan ikut terpental. Hunian di samping rumah Husain ikut rusak. Uma Abu, wanita 30-an tahun itu, diduga kuat memilih meledakkan diri. Membawa serta anak-anaknya.

Baca juga: Ngeri! Hasil Investigasi Sebut Sejumlah Jenderal Terlibat Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

“Diduga sudah meninggal dengan meledakkan diri,” ungkap Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Rabu (13/03/2019).

Sayangnya, polisi tak bisa langsung memindahkan jasad wanita dan para bocah itu. Sebab, diperkirakan masih banyak bom aktif di TKP.

“Kami memperhatikan keselamatan anggota,” tambah Dedi.

Aparat menunggu tim Inafis dan Labfor. Hasil identifikasi sementara menunjukkan, bom yang diduga digunakan Uma Abu untuk meledakkan diri ialah bom lontong yang dirakit menggunakan pipa paralon. Isinya adalah potasium, serpihan besi, paku dan baut. Semua itu akan akan terlontar liar menembus apapun saat terdorong daya ledakan.

Dampak Ideologi ISIS yang Merasuk Kuat?

Sampai sekarang, motif Umi Abu yang meledakkan diri bersama anak-anaknya belum diketahui apa. Bahkan nama aslinya saja belum diketahui. Imbauan aparat dan permintaan suaminya sendiri saja tak ia gubris.

Menurut Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Husain (Abu Hamzah) mengatakan bahwa istrinya lebih keras terasuki paham radikalisme ketimbang dirinya.

“Memang informasi dari suaminya jauh lebih keras terpapar oleh paham ISIS,” tukas Dedi di Medan.

Beberapa jam setelah ledakan, usai Tim Gegana memusnahkan benda-benda diduga bom, akhirnya polisi mendekat ke rumah Husain. Di dalam bangunan yang porak-poranda itu, ditemukan bagian tubuh manusia yang tak lagi menyatu. Diduga itu adalah Uma Abu dan anak-anaknya yang masih kecil.

“Yang sudah dipastikan dari hasil jasad yang masih proses identifikasi itu ada dua,  jasad seorang perempuan usia di atas 30 dan satu anak usia sekitar 2 tahun,” sebut Dedi Prasetyo.

Proses identifikasi dari tim Inafis Polri masih berjalan. Tak menutup kemungkinan, jumlah korban akibat ledakan ini masih bertambah. Dua anak, yang dilaporkan ada di dalam rumah saat kejadian, belum diketahui rimbanya.

“AH (Husain alias Abu Hamzah) menginformasikan anaknya ada tiga. Tetangga bilang anaknya ada dua. Tapi yang diidentifikasi baru dua jenazah dari bagian tubuh itu,” tambahnya.

Hingga kini, kepolisian masih kesulitan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Hanya Tim Gegana Brimob Polda Sumut yang boleh masuk ke TKP. Sebab, dikhawatirkan masih ada bom rakitan yang bisa meledak sewaktu-waktu.

“Ini perlu kehati-hatian. Lokasi disterilisasi, warga diminta menjauh di luar radius 100 meter dari lokasi,” tandas Dedi Prasetyo.

Jaringan Teror yang Masuk Sibolga

Paham radikal ISIS jadi latar belakang Husain (Abu Hamzah) terlibat terorisme. Ideologi serupa juga diduga jadi latar belakang istrinya, Umi Abu meledakkan diri di tengah kepungan aparat. Sementara itu, di wilayah yang pernah jadi kekuasaannya, ISIS justru kocar-kacir.

Organisasi teror yang pernah mengangkangi petak besar wilayah di Irak dan Suriah, dengan populasi mencapai 8 juta jiwa, terpaksa bertahan di Desa Baghouz di tepi Sungai Euphrates, yang jadi benteng terakhir kekalifahannya. Dan sebentar lagi tamat. Namun, peristiwa di Sibolga menjadi salah satu pengingat, ancaman ISIS saat ini belum lewat.

Berdasarkan temuan Densus 88 Antiteror, diduga bahwa Husain (Abu Hamzah) ialah anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Dua orang lainnya yang diduga satu komplotan dengan Husain juga ditangkap oleh aparat.

“Ketiganya merupakan jaringan JAD yang berafiliasi dengan jaringan ISIS,” ujar Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, mengutip Antara, Selasa malam (12/03/2019) usai menghadiri kegiatan Silahturahmi di Pondok Pesantren Al Kautsar di Medan, Sumatera Utara.

Ia menyatakan, aksi para pelaku terduga teroris itu tak ada kaitannya dengan pemilu, melainkan pengembangan dari tertangkapnya seorang terduga teroris di Lampung. Sebelumnya, penangkapan di Lampung berhasil dilakukan berkat kerja sama dari orangtuanya terduga pelaku yang tak ingin anaknya terjerumus dalam terorisme.

Rumah milik mertua Husain yang berada di Jalan Kutilang, Kelurahan Habil, Kota Sibolga juga jadi target penggerebekan pada Selasa (12/03/2019). Ada bahan peledak di sana.

Kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal, Densus 88 Antiteror Polri telah cukup lama memantau pergerakan para terduga teroris yang disinyalisasi berafiliasi dengan kelompok JAD.

Terpisah, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta semua pihak tetap waspada. Meski, di atas kertas dan secara organisasi JAD telah bubar tapi bukan berarti urat akarnya juga ikut binasa.

“Mereka ini memang lebih kuat di ideologi sehingga walaupun kita merasa barangnya habis tapi sel-selnya selalu tumbuh. Nah, sel-sel inilah yang menyebar sehingga jangan mengatakan bahwa ‘oh enggak ada lagi’,” ucap Moeldoko di Universitas Paramadina, Jakarta Selatan, Rabu (13/03/2019).

Apalagi, saat ini, banyak teroris yang tak lagi terikat dengan organisasi. Mereka berkerja sendiri (lone wolf). Contohnya seperti dalam aksi teror di Surabaya.

“Beberapa kejadian putus dari struktur. Seperti teror di Surabaya setelah diselidiki nonstruktur,” tutur Moeldoko.

Ajak Keluarga Lakukan Teror

Jamaah Ansharut Daulah (JAD) bubar lewat keputusan pengadilan. Pada Selasa 31 Juli 2018, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan membubarkan organisasi bentukan Aman Abdurrahman itu. JAD diputuskan terlarang lantaran terbukti berafiliasi dengan ISIS. Kendati begitu, bukan berarti kelompok itu lantas membubarkan diri.

Al Chaidar pengamat terorisme menyebutkan, jumlah jaringan JAD di Indonesia masih banyak dan tersebar di seluruh wilayah. Namun, yang paling menonjol berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Riau, dan Lampung. Jaringan ini pun sangat berbahaya karena mulai melibatkan anggota keluarga dalam menjalankan aksi-aksinya, seperti meledakkan diri.

“Sangat berbahaya. Karena mereka akan melakukan apa yang disebut dengan terorisme keluarga,” tukasnya dalam perbincangan dengan awak media, Rabu (13/03/2019).

Al Chaidar mengatakan, kelompok JAD di Tanah Air sebenarnya tak begitu kuat. Karena itulah, mereka menggunakan cara baru yakni terorisme keluarga. Cara-cara ini lantas dianggap lebih efektif mewujudkan teror. Teroris keluarga ini pula yang terjadi di Sibolga, Sumatera Utara. Sang istri memilih meledakkan diri daripada menyerah kepada polisi.

“Jadi boleh itu dilakukan dengan legitimasi keagamaan tertentu. Dan itulah yang menjadi ciri khas kelompok wahabi takfiri. Ada alasan fatwa di situ. Fatwa itulah yang mereka anut sebagai sesuatu paling benar,” sebutnya.

“Ya sudah sangat brutal, hina memang. Sudah sangat radikal makanya ini yang disebut dengan ultimate terrorism. Terorisme yang paling puncak,” imbuhnya.

Diakui Al Chaidar, sulit memutus rantai JAD. Bahkan, UU Terorisme yang telah direvisi pada 2018 tak mampu sepenuhnya mengantisipasi perkembangan gerakan itu.

Dia pun menambahkan, jaringan ini akan terus mengembangkan pola terorisme keluarga. Apalagi, doktrinnya sangat kuat dalam keyakinan mereka. Melakukan serangan dengan bersama-sama dengan keluarga justru dianggap sebagai satu-satunya serangan yang paling benar.

“Padahal itu salah menurut agama. Karena kalau mereka menganggap itu sebagai jihad, jihad itu tidak boleh melibatkan anak-anak,” katanya lagi.

Pengamat Terorisme Ali Fauzi menyampaikan, saat ini penyebaran jaringan radikal banyak dilakukan melalui jalur perkawanan dan pertemanan. Ali berujar, jaringan ini sangat berbahaya seperti kasus bom b***h diri satu keluarga di Surabaya, Jawa Timur. Kelompok ini pun memiliki pemikiran destruktif.

Ia menuturkan, jaringan JAD yang terafiliasi ISIS kini fokus ke wilayahnya masing-masing setelah nyaris tak punya wilayah teritorial di Suriah maupun Irak.

“Tapi menariknya dalam kasus Sibolga ini kita bisa lihat bagaimana mental seorang istri teroris yang suaminya ini sudah ditangkap tapi kemudian istrinya enggak mau rumahnya digeledah dan informasi terbaru bahwa si istri ini berani meledakkan dirinya,” sebut Ali Fauzi, Rabu (13/03/2019).

Kelompok ini yakin, apa yang mereka lakukan itu bagian dari ibadah dan jihad yang ganjarannya ialah surga, kalau mati.

“Ini ideologi, bukan hanya faktor-faktor yang orang sering katakan yakni faktor ekonomi. Ini karena faktor ideologi yang paling dominan. Kalau cuci otak mungkin lebih kepada proses tarbiah yang mereka lakukan,” ujarnya.

Ali Fauzi melanjutkan, memutus mata rantai jaringan ini tidak mudah. Harus ada upaya sinergitas antara polisi, TN, Kementerian Agama, Kementerian Sosial, hingga semua elemen masyarakat. Aparat keamanan di level bawah, Polres, Polsek, itu juga harus dipahamkan dan ditanamkan tentang jaringan teroris di Indonesia.

“Kalau ini hanya diserahkan kepada BNPT, Densus 88 ya tentu enggak akan cukup. Karena perlu diingat wilayah teritorial Indonesia ini sangat luas. Penduduknya ratusan juta,” tukasnya.
suratkabar.id

Loading...
Loading...