Home Politik Inilah Mantan Wartawan yang Bikin Pusing Soeharto

Inilah Mantan Wartawan yang Bikin Pusing Soeharto

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Adam Malik Batubara, atau yang lebih dikenal dengan nama Adam Malik merupakan salah satu nama dari sederet mantan Wakil Presiden RI. Namun ada yang berbeda darinya bila dibandingkan dengan yang lain. Sosoknya disebut merupakan wartawan yang membuat Soeharto, Presiden RI era Orde Baru, menjadi pusing. Apa sebab?

Keduanya mempunyai kesamaan. Sama-sama lulusan SD tapi juga cerdas dan cemerlang di bidangnya masing-masing. Sewaktu Adam Malik dan beberapa tokoh jurnalis pergerakan nasional mendirikan Kantor Berita Antara di Jakarta (tahun 1937), Soeharto masih bocah belasan tahun.

Tiga tahun kemudian, waktu Adam Malik memimpin Antara sambil aktif berpolitik di Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), Soeharto baru saja teeken (mendaftar masuk) menjadi anggota Tentara Kerajaan Belanda (KNIL). Setahun kemudian, Soeharto jadi sersan di KNIL, demikian melansir Tirto.ID, Rabu (13/03/2019).

Sewaktu Adam Malik jadi kepala bagian di kantor berita zaman Jepang, Soeharto meneruskan kariernya di dinas militer sukarela Jepang, PETA. Usai revolusi, Adam Malik berkarier juga sebagai diplomat. Sementara Soeharto terus di militer Republik. Mereka punya satu kesamaan: bisa mencapai posisi puncak walau ijazah mereka tak bisa dibilang tinggi.

Soeharto hanya lulus Schakel School (sekolah lanjutan), yang menerima lulusan Volkschool (sekolah dasar tiga tahun). Lulusan Schakel School, ijazahnya disetarakan dengan lulusan sekolah dasar tujuh tahun untuk pribumi, Hollandsch Inlandsch School (HIS). Di HIS ini pula, Adam Malik bersekolah.

Baca juga: Sejarah Supersemar Masih Diperdebatkan, di Mana Naskah Aslinya?

Jadi, jika dilihat dari ijazahnya, Soeharto dan Adam Malik hanya lulusan sekolah dasar. Meski di masa kini tampak remeh, namun saat sebelum 1940-an, bisa sekolah hingga level SD itu merupakan sebuah keberuntungan.

Menteri yang Mendinginkan

Adam Malik ialah satu dari Tritunggal penting dalam pemerintahan awal Orde Baru bersama Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Di awal Orde Baru, Adam Malik pernah menjadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II merangkap Menteri Luar Negeri pada 18 Maret 1966, saat Surat Perintah 11 Maret 1966 dipegang oleh Letnan Jenderal Soeharto. Setelah 9 hari menjabat Waperdam II, Adam Malik berganti jabatan lagi menjadi Wakil Perdana Menteri Urusan Sosial Politik dan masih merangkap Menteri Luar Negeri.

Sewaktu awal Orde Baru, Adam Malik menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia yang memperbaiki hubungan Indonesia dengan Malaysia yang runyam di era-era Konfrontasi Ganyang Malaysia. Pria kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara ini juga punya andil dalam pembentukan ASEAN. Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara ini menghadirkan rasa aman bagi Malaysia yang sebelumnya dimusuhi oleh Presiden Soekarno karena dianggap proyek Nekolim Kerajaan Inggris.

Setelah menjadi menteri, Adam Malik menjadi orang penting juga di Parlemen pada era 1970-an. Saat menjadi Ketua DPR/MPR Adam memberi kabar gembira bagi Soeharto. Seperti diakui Soeharto dalam Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989:331), Adam Malik bilang pada Soeharto, “Menurut perhitungan matematik, Pak Harto sudah dapat dipastikan terpilih kembali.”

Bagaimana tidak terpilih, ABRI mendukung Soeharto. Begitu juga Golongan Karya (Golkar).

Ketika Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang jadi Wapres enggan menjabat kembali, Soeharto memilih Tritunggal yang lain, yakni Adam Malik sebagai wakilnya.

“Ternyata kerjasama dengan Adam Malik selama jabatan saya (1978-1983), juga bisa, sekalipun tempo-tempo Bung Adam Malik, sebagai seorang politikus, membuat statement yang kurang serasi.”

Dua orang ini memang beda latar belakang. Adam orang Sumatera, Soeharto Jawa. Adam ialah bagian dari pergerakan nasional dan pernah jadi wartawan. Sedangkan Soeharto militer. Di kalangan pergerakan nasional, Adam Malik bukan dari golongan yang kooperatif dengan pemerintah kolonial. Sementara Soeharto pernah bekerja dengan pemerintah kolonial sebagai bintara tentara kerajaan di Hindia Belanda.

Latar belakang Adam sebagai wartawan inilah yang membuat Soeharto merasa sulit. Di antara wapres-wapresnya, tampaknya hanya Adam Malik yang punya latar belakang sebagai wartawan sekaligus bagian dari pergerakan nasional. Sesudah Adam Malik, Soeharto pernah lagi punya Wapres seperti Adam Malik. Soeharto lebih sreg dengan wapres dari militer.

Soeharto, dengan pengakuan di autobiografinya itu seolah mengaku ada sedikit kewalahan dalam bekerjasama dengan Adam Malik. Meski Soeharto harus dibuat pusing, tentu saja Soeharto harus tampak kompak dengan rekan kerjanya.

Maka Soeharto menyebut “tidak ada maksud padanya untuk mempersulit keadaan, tetapi statement-nya itu menyulitkan, artinya, tidak serasi dengan kebijaksanaan pemerintah. Padahal ia berada di dalamnya.”

Salah satu yang menyulitkan itu ialah: pembukaan kembali hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Cina (RRC). Adam Malik seolah hendak membukanya sesegera mungkin, tapi Soeharto merasa perlu membatasinya.

Pengikut Tokoh Komunis atau Agen CIA?

Keunikan Adam Malik sebagai Wapres pun tak hanya sampai di sana. Di masa lalu, Adam Malik adalah pengikut tokoh komunis, Tan Malaka, dan aktif juga di partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba). Bahkan, Adam Malik juga tersangkut Kudeta 3 Juli 1946, seperti kebanyakan tokoh Murba. Ini tentu tak lazim di negara anti komunis macam Indonesia.

Menariknya lagi, meski punya latar belakang komunis, Adam Malik juga dituduh sebagai agen CIA. Ini pernah ditulis oleh Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA(2008). Weiner mengutip pengakuan perwira CIA bernama Clyde McAvoy terkait hal itu.

“Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” aku Clyde McAvoy. “Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut.”

Sudah pasti tudingan ini dibantah oleh keluarga dan banyak sejarawan, termasuk Taufik Abdullah. Kata Taufik, tak masuk akal jika Adam Malik dianggap sebagai agen CIA. Sebab jika mengikuti sejarah hidup dan perjuangannya, Adam Malik merupakan seorang nasionalis yang cenderung sosialis.

“Payah kalau soal itu. Tak masuk akal dia agen CIA mengingat dia adalah nasionalis yang cenderung sosialis. Apalagi dia berbasis sekolah agama pula,” demikian Taufik menyangkal.

Terlepas dari semua gonjang-ganjing itu, Adam adalah sosok penting bagi Republik ini. Dari pemerintah Republik Indonesia, Adam Malik memperoleh banyak penghargaan. Dia penerima Bintang Mahaputera kl. IV tahun 1971, Bintang Adhi Perdana kl.II tahun 1973, juga diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 1998. Adam Malik tutup usia karena penyakit kanker pada 5 September 1984.
suratkabar.id

Loading...
Loading...