Home Politik Enggan Dukung Yahya Staquf, MUI: Tidak Memahami Penderitaan Rakyat Palestina

Enggan Dukung Yahya Staquf, MUI: Tidak Memahami Penderitaan Rakyat Palestina

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Katib Aam (Sekjen) Suriyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf berangkat ke Israel dan mengaku akan berdiri untuk rakyat Palestina.

Namun, Ketua Umum Majelis Ulana Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin enggan memberikan dukungan. Menurutnya, kepergian Yahya merupakan tanggung jawab pribadi yang tak berkaitan dengan negara, MUI, maupun PBNU.

Selain itu, Ma’ruf juga mengaku belum dapat menilai keuntungan atau kerugian terkait keberangkatan Yahya ke Israel.

“Itu tanggung jawab sendiri,” tegas Ma’ruf di Gedung MUI, Jakarta, Selasa (11/6/2018), dikutip dari cnnindonesia.com

Baca juga: Ramai Kecaman Yahya Staquf ke Israel, Jokowi: Itu Urusan Pribadi

Yahya mengaku, kepergiannya ke Israel untuk menjadi pembicara dalam lokakarya berskala internasional yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) di Israel. Bahkan, seperti diwartakan NU Online, Yahya mengaku hadir di Israel untuk Palestina.

“Saya berdiri di sini untuk Palestina. Saya berdiri di sini atas dasar bahwa kita semua harus menghormati kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka,” tuturnya.

Meski begitu, menurut Ma’ruf, MUI tetap tak bisa memberikan dukungan. Menurut Ma’ruf upaya diplomasi sebaiknya dilakukan oleh pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bukan perorangan.

“Apakah memperlancar upaya Kemenlu atau justru memperburuk. Tetapi sebenarnya diplomasi yang kami inginkan melalui Kemenlu secara resmi,” lanjut Ma’ruf.

Ia pun menyerahkan kepergian Yahya ke Israel sepenuhnya pada PBNU. “Di MUI tidak ada hak untuk menindak, itu nanti PBNU,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas menilai bahwa kunjungan Yahya tak memahami sikap pemerintah yang baru saja menangguhkan visa bagi turis Israel sebagai aksi protes atas tewasnya 120 warga Palestina.

“Yang bersangkutan tidak memahami sikap dan jati diri bangsa Indonesia. Dia juga tidak memahami penderitaan rakyat Palestina,” tegas Anwar.

Anwar menambahkan, pidato yang disampaikan Yahya pun lebih mengutamakan kepentingan politik Israel dibanding membela rakyat Palestina.

“Kalau didengar secara utuh, ceramahnya lebih banyak mengutamakan kepentingan politik Israel. Lemah sekali pembelaannya terhadap Palestina,” lanjut Anwar.

Anwar juga menganggap bahwa Yahya perlu meminta maaf secara terbuka karena dianggap telah menyakiti rakyat Indonesia dan mengabaikan sikap politik Indonesia.

“Ya dia perlu minta maaf, pemerintah Pak Joko Widodo dan menteri luar negeri selama ini sudah tegas. Tapi dengan dia ‘bermesraan’ di Israel, politik luar negeri pemerintah menjadi terganggu,” katanya.
suratkabar.id

Loading...
Loading...