Home Politik Demokrat Klaim Suara Turun Akibat Dukung Prabowo, PKS Ungkap Fakta Mengejutkan

Demokrat Klaim Suara Turun Akibat Dukung Prabowo, PKS Ungkap Fakta Mengejutkan

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Menurut Ketua DPP Partai Demokrat (PD) Jansen Sitindaon, suara partainya jadi turun akibat berkoalisi mendukung capres 02 Prabowo Subianto. Meski begitu, Partai  Keadilan Sejahtera (PKS) berkata lain. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengklaim, setiap partai tentu punya strategi yang berbeda di Pemilu 2019. Dan tiap  siasat tentu disertai dengan risiko dan konsekuensinya masing-masing. Adapun strategi PKS, menurut Mardani, ialah menyatukan kampanye pilpres dan pileg.

“Tiap partai punya strategi pileg dan pilpres yang terbuka. PKS menafsirkan bahwa kita satukan kampanye pilpres sekalian kampanye pileg,” ujar Mardani ketika dihubungi rekan media pada Sabtu (11/05/2019) malam, dilansir dari reportase Detik.com, Minggu (12/05/2019).

Mardani mengemukakan, PKS belum membuat evaluasi pemilu. Namun, yang pasti, dia mengatakan PKS merasakan efek yang berbeda dari penyelenggaraan pilpres.

“Kita belum buat evaluasi. Tapi pandangan umumnya efek pilpres dirasakan oleh PKS,” tukas Mardani.

Diberitakan sebelumnya, Ketua DPP PD Jansen Sitindaon mengungkapkan bahwa dukungan Demokrat ke Prabowo Subianto membuat suara untuk partainya turun. Namun, menurutnya, itu risiko dari memilih capres yang diusung. Pernyataan ini dilontarkan Jansen saat menanggapi pernyataan Waketum Partai Gerindra Arief Poyuono yang meminta mereka keluar dari koalisi Prabowo-Sandiaga, yakni Koalisi Indonesia Adil Makmur.

Baca juga: Blak-Blakan! Elite PD Sebut Dukung Prabowo Bikin Suara Partai Anjlok Lantaran Politik Identitas

“Kami 7 bulan ini sudah membuktikan serius kok memenangkan Prabowo. Bahkan karena dukung Prabowo ini suara partai kami turun. Caleg seperti saya ini tidak dipilih karena politik identitas,” ujar Jansen kepada wartawan, Sabtu (11/05/2019).

Sebagaimana diketahui, politik identitas merupakan sebuah alat politik suatu kelompok seperti etnis, suku, budaya, agama atau yang lainnya untuk tujuan tertentu. Misalnya sebagai bentuk perlawanan atau sebagai alat untuk menunjukan jati diri suatu kelompok tersebut, melansir Wikipedia.

Kursi PKS Bertambah

Faktanya, mengutip TribunNews.com, setelah jumlah suara dikonversi ke jumlah kursi parlemen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Pileg 2019 mendapat jatah 10 kursi di DPRD Kabupaten Bandung.

Jumlah kursi PKS ini memang bertambah sebanyak empat kursi dari periode sebelumnya yang hanya mendapat 6 kursi.

Dari rekapitulasi tingkat Kabupaten Bandung, Partai Golkar disebut memperoleh 11 kursi di parlemen DPRD Kabupaten Bandung, lalu disusul dengan PKS sejumlah 10 kursi, Gerindra 7 kursi, PDIP 7 kursi, PKB 6 kursi, Demokrat 5 kursi, Nasdem 5 kursi, dan PAN 4 kursi.

Caleg PKS yang masuk parlemen ialah Tedi Surahman, Irwan Abu Bakar, Uus Haerudin Firdaus, Ela Nurlaela, Otjo Sutisna, Ahmad Zaenal Sabarudin, Eka Ahmad Munandar, Maulana Fahmi, Dasep Kurnia Gunarudin, dan Wawan Risnandi.

BPN Bingung

Secara terpisah, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno mengaku bingung atas klaim Demokrat yang merasa suara untuk partainya jadi turun akibat berkoalisi dengan 02.

“Saya tidak sepakat dengan orang mendukung Pak Prabowo suara partai turun. Yang ada suara partai itu malah menambah,” ujar juru bicara BPN, Andre Rosiade, kepada wartawan, Sabtu (11/05/2019) malam.

Diutarakan Andre, partai-partai di Koalisi Indonesia Adil Makmur pengusung Prabowo-Sandiaga justru mengalami kenaikan suara lantaran bekerja sungguh-sungguh di pilpres. Itulah sebabnya Andre mengaku bingung mendengar pernyataan Jansen.

“Contoh ya, Berkarya diprediksi nol (persen), serius mendukung Pak Prabowo, mereka bekerja, jadi 2 persenan. PAN diprediksi hanya dapat 2-3 persen di seluruh survei, serius bekerja memilih Pak Prabowo suaranya naik, lolos parliamentary threshold,” ucap Andre.

“PKS diprediksi nyaris nggak lolos PT katanya kan, yang terjadi apa? Inilah suara tertinggi PKS dalam sejarah. Nah Gerindra juga ada kenaikan sekitar 2 persen. Jadi semua naik ya, yang bekerja naik gitu lho. Saya nggak ngerti maksud Jansen bilang malah rugi dukung Pak Prabowo,” papar politikus Partai Gerindra tersebut.

Andre menegaskan, pihaknya tak pernah menjual politik identitas yang dikeluhkan Jansen sebagai penyebab turunnya suara Demokrat.

“Gerindra tidak pernah jualan politik identitas. Kami fokus itu, Jansen tahu, baik Gerindra maupun BPN dan teman-teman di BPN itu fokusnya tiga isu. Pertama soal ekonomi, kedua soal ketersediaan lapangan pekerjaan, yang ketiga soal harga-harga kebutuhan bahan pokok terjangkau, termasuk harga listrik diturunkan kalau Pak Prabowo (jadi). Itu fokus kami,” tukas Andre kemudian.


suratkabar.id

Loading...
Loading...