Home Politik Cerita Diktat Bernoda Darah Hafidhin Royan dalam Tragedi Trisakti

Cerita Diktat Bernoda Darah Hafidhin Royan dalam Tragedi Trisakti

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Tak terasa sudah 20 tahun berlalu setelah pecahnya Tragedi Trisakti. Namun kamar itu masih seperti dulu. Buku-buku dan diktat kuliah Hafidhin Royan tersimpan rapi di lemari. Sunarmi Junus lalu menunjuk satu buku yang terdapat noda berwarna coklat.

“Itu buku terakhir yang dia bawa, warna coklat di diktat itu bercak darah,” ucap Sunarmi saat menemani wartawan melihat kamar anaknya di Jalan Sirnagalih, Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Mengutip laporan Tempo.co, Minggu (13/05/2018), Hafidhin Royan ialah mahasiswa jurusan Teknik Sipil Universitas Trisakti yang gugur ditembus peluru aparat saat aksi unjuk rasa 12 Mei 1998 lalu.

Tragedi Trisakti itu jelas memukul keluarga Sunarmi Junus.  Ayah Hafidhin, Enus Junus, menjadi orang yang sangat terpukul atas kematian anaknya yang ditembak aparat. Sebagai seorang pegawai negeri saat itu, Enus yang sudah lama mengabdi pada negara harus menghadapi kenyataan pahit: Anaknya dibunuh justru oleh aparat negara.

Huda Nurjanti, kakak Hafidhin Royan bercerita, sejak Tragedi Trisakti yang menewaskan 4 mahasiswa termasuk adiknya, bapaknya itu kerap mengliping berita. Ia pun rajin merawat kamar anaknya. Semua barang milik anak lelaki satu-satunya di keluarga itu dia pajang.

Baca juga: Prabowo dan Tragedi Trisakti, Ini Kata Masyarakat

“Awalnya, hanya untuk dinikmati oleh Bapak, hingga akhirnya tersebar dari mulut ke mulut oleh orang-orang,” ungkap Huda.

Kamar itu seperti bercerita tentang Tragedi Trisakti yang ikut menghilangkan nyawa Hafidhin Royan. Insiden 20 tahun lalu itu terpatri dari foto-foto yang dipajang di sana. Sebuah pigura berisikan tulisan, “Perjuanganmu akan kami teruskan sampai titik darah penghabisan” terpampang di dinding berbaur dengan foto, lukisan, poster band, tempelan kucing Garfield, pajangan mobil Volkswagen, hingga piagam milik Hafidhin.

Kilas Balik Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 lalu berawal dari unjuk rasa yang digelar kampus biru itu untuk menuntut reformasi. Kondisi negara yang saat itu sedang kritis dengan ekonomi yang hancur membuat mahasiswa turun ke jalan untuk menuntut pergantian rezim.

Mahasiswa Trisakti yang turun ke jalan awalnya berunjuk rasa dengan damai. Mereka bahkan sempat membagikan bunga kepada polisi yang berjaga.

Namun saat matahari tergelincir di sore hari, suasana tiba-tiba berubah chaos. Aparat keamanan menembakkan gas air mata dan peluru dari senjata laras panjangnya. Heru P. Sanusi, dosen Universitas Trisakti ingat betul bagaimana bunyi desing peluru yang mengenai dinding kampus.

Heru pun menjadi saksi kebrutalan aparat yang menewaskan mahasiswanya. Ia mengangkat tubuh seorang mahasiswa yang ditembak di bagian lehernya. Mahasisa itu kemudian diketahui sebagai Hendriawan Sie yang kuliah di Fakultas Ekonomi.

Hendriawan menjadi korban bersama Hafidhin Royan, Elang Mulia Lesmana dan Heri Hartanto. Sunarmi meyakini Hafidhin Royan ditembak dengan peluru tajam.

“Lubang masuknya sebesar 0,6 sentimeter. Saat dibalik, batang otaknya sampai tersembul,” tukas ibu lima anak tersebut. Dia menyebut darah itu mengenai ransel Hafidhin sebelum membercaki buku-buku di dalamnya.

Pada saat Tragedi Trisakti terjadi, Sunarmi tengah berada di Jakarta karena Huda, kakak Hafidhin baru saja melahirkan. Ia mendengar tragedi itu melalui telepon dari seorang mahasiswa Trisakti. Sunarmi kemudian meluncur ke Sumber Waras—hanya untuk menemui anaknya telah terbujur kaku dengan luka tembak di kepala.

“Ibu yang lain sempat pingsan, alhamdulillah saya masih diberi kekuatan,” tuturnya tegar. Sunarmi sekeluarga akhirnya mengantar Hafidhin untuk dimakamkan di belakang rumahnya di Bandung pada Rabu, 13 Mei 1998 sekitar pukul 06.00 WIB. Sebelum itu, jenazah Hafidhin telah terlebih dahulu diotopsi dan disemayamkan di kampus Trisakti.

Menurut Sunarmi, wafatnya Hafidhin sangat memengaruhi suaminya.

“Bapak dan Pak Bagus (ayah Elang Mulya) stres berat karena meninggalnya anak kita, itu sangat tampak,” imbuhnya. Hampir setiap menjelang tanggal 12 Mei sang suami selalu merasa tak tenang. Sebab, setiap tahunnya kenangan yang hampir dilupakan suaminya itu kembali tampak menjelang tanggal keramat itu.

Bahkan, Sunarmi merasa peristiwa itu pun memengaruhi alam bawah sadar suaminya.

“Pernah ketika kami sahur bersama, Bapak terus ngomong yang aneh-aneh, memanggil Royan,” paparnya kemudian. Beban pikiran itu, tambah Sunarmi, kemudian memengaruhi kesehatan suaminya hingga akhirnya sang suami meninggal di usianya yang ke 64 tahun pada 2006 lalu.

Selain sang suami, Sunarmi menyebutkan kematian Hafidhin juga memengaruhi anak bungsunya, Hayyu Rakhmia, yang saat itu masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Atas. “Nilainya jadi banyak merahnya. Biasanya kalau enggak bisa itu minta diajarin Hafidin pas dia pulang,” kisahnya.

Menyisakan Tanya

Setelah 20 tahun reformasi, kasus meninggalnya empat mahasiswa Trisakti masih menyisakan tanya. Pemerintah memang telah menghukum beberapa polisi yang saat itu bertugas. Namun hingga kini tak diketahui dari mana perintah penembakan itu berasal dan siapa pucuk pimpinan yang bertanggung jawab.

Sunarmi geram, karena berbagai rekomendasi yang dikeluarkan tim gabungan pencari fakta Tragedi Trisakti tak ditindaklanjuti pemerintah. Harapan sempat timbul di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu orang tua korban Tragedi Trisakti diundang ke Istana untuk pemberian gelar pejuang reformasi.

Sunarmi mengungkapkan di sisa usianya, dia masih mengejar tanggung jawab negara atas kematian sang anak. Hingga kini pemerintahan Joko Widodo, Sunarmi tetap menagih janji presiden yang pada saat kampanye—yang mengatakan akan menuntaskan kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Sayang, memang, orang yang diminta menangani masalah ini adalah Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto. Sunarmi menuturkan, Wiranto memang pernah mengajak bertemu para orang tua korban, namun saat itu ia tak bisa hadir. Menurutnya, Wiranto yang saat itu menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang juga membawahi Polri harusnya ikut bertanggung jawab.

“Harusnya bertanggung jawab,” tandasnya.

Keinginan agar Wiranto bertanggung jawab atas Tragedi Trisakti juga diungkapkan Lasmiyati. Ibunda dari Heri Hartanto itu mengatakan, saat bertemu dengan orang tua korban, Wiranto berjanji akan membicarakan masalah Tragedi Trisakti ini dengan Presiden Jokowi.

Namun kini janji tinggallah janji. Sampai sekarang, Lasmiyati masih tetap menuntut pemerintah melaksanakan janjinya mengungkap dalang penembakan di Trisakti. “Harusnya negara bertanggung jawab,” tukasnya pada Rabu (09/05/2018) lalu, sebelum berziarah ke makam sang anak di kawasan Tanah Kusir.
suratkabar.id

Loading...
Loading...