Home Politik Bambang Widjojanto: KPK Apakah Masih Punya Nyali Periksa Tito Karnavian?

Bambang Widjojanto: KPK Apakah Masih Punya Nyali Periksa Tito Karnavian?

0
SHARE

RAKYAT JAKARTA – Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto mengeluarkan sindiran menohok yang ditujukan kepada bos KPK. Ia mempertanyakan keberanian Ketua KPK Agus Rahardjo cs menyelesaikan kasus rasuah pentolan CV Sumber Laut Perkasa Basuki Hariman.

Bambang, dilansir dari Tempo.co, Selasa (9/10/2018), menanyakan kesungguhan KPK menuntaskan kasus yang menjerat Basuki Hariman. Ia penasaran seberapa besar nyali petinggi KPK cs untuk memanggil dan memeriksa Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian.

“Pimpinan KPK tengah diuji publik apakah masih punya nyali untuk membongkar kasus ini hingga tuntas. Setidaknya memanggil dan memeriksa Tito Karnavian,” kata Bambang melalui keterangan tertulis pada Senin (8/10) kemarin.

Ia menyampaikan hal tersebut demi menanggapi pemberitaan terkait adanya dugaan perusakan barang bukti, yakni buku bank bersampul merah yang diketahui atas nama Serang Noor ID oleh dua penyidik KPK, Ajun Komisaris Besar Roland Ronaldy serta Komisaris Harun.

Keduanya diduga telah merusak barang bukti berupa 15 lembar catatan transaksi di dalam buku bank tersebut. Selain itu, Roland dan Harun juga membubuhkan tip ex guna menghapus sejumlah nama penerima uang yang digelontorkan Basuki.

Baca Juga: 34 Kepala Daerah Diringkus Terkait Suap, KPK Bongkar Beragam Modus Pelaku

Peristiwa tersebut berhasil terekam kamera pengawas CCTV yang berada di dalam ruangan kolaborasi lantai 9 Gedung KPK pada 7 April 2017 silam. KPK akhirnya mengembalikan kedua penyidiknya tersebut ke kepolisian atas tuduhan dugaan tindak perusakan tersebut.

Adapun isi lembaran buku yang hilang berupa catatan transaksi keuangan yang dibuat oleh Bagian Keuangan CV Sumber Laut Perkasa Kumala Dewi Sumartono. Keterangan Kumala mengenai buku tersebut tercatat di dalam berita acara pemeriksaan yang disusun penyidik KPK Surya Tarmiani tertanggal 9 Maret 2017.

Di dalam dokumen pemeriksaan berisi keterangan Kumala, terungkap catatan pengeluaran uang dari Basuki. Dari catatan pengeluaran tersebut, salah satunya ditengarai ditujukan kepada para petinggi polisi, termasuk Tito Karnavian.

Saat memberikan saksi pada kasus yang sama di Pengadilan Tindak Pidana Korumsi, 3 Juli lalu, Kumala mengakui satu hal. Ia mengaku dirinyalah yang membuat buku catatan tersebut di bawah perintah Basuki dan atasannya, Ng Fenny, yang merupakan general manager.

Menurut dokumen pemeriksaan yang didapatkan IndonesiaLeaks, Surya meminta penjelasan dari Kumala terkait 68 transaksi yang tercatat dalam buku bank merah atas nama Serang Noor tersebut. Tak hanya dalam mata uang rupiah, catatan arus uang masuk dan keluar juga dalam dollar Amerika Serikat (AS) dan Singapura. Sayangnya tak semua penerima dituliskan dalam nama yang jelas. Sebagian di antaranya hanya tertulis inisial.

Tertuang dalam salinan berita acara pemeriksaan tersebut, terdapat 19 catatan transaksi kepada individu yang terkait dengan institusi Kepolisian RI. Di dalam dokumen, nama Tito Karnavian tercatat paling banyak menerima kucuran uang baik langsung dari Basuki maupun melalui orang lain. Dalam dokumen tertulis bahwa pada buku bank merah, Tito tercatat dengan nama Kapolda/Tito atau Tito saja.

Lebih lanjut, Kumala menjelaskan bahwa dalam dokumen pemeriksaan terdapat pemberian dana kepada Tito pada saat ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Seperti yang diketahui, Tito menduduki posisi tersebut sejak Juni 2015 hingga Maret 2016.

Empat pengeluaran lain kembali terlihat saat ia menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada Maret hingga Juli 2016 lalu. Sedangkan aliran lainnya tercatat setelah ia dilantk sebagai Kepala Kepolisian RI. Adapun besaran uang di setiap transaksi berkisar pada angka Rp 1 miliar.

Ketika dimintai konfirmasi terkait aliran dana dalam berkas penyidikan Kumala, Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian memilih bungkam. Tak satu pertanyaan pun yang dijawabnya. Ia mengaku sudah mendelegasikan permohonan wawancara tim IndonesiaLeaks pada bawahannya. “Sudaha dijawab sama humas,” katanya.

Melalui surat tertulis, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Muhammad Iqbal menampik tudingan aliran dana kepada Tito. Menurutnya, catatan yang tercantum dalam buku merah tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.

“Tidak benar. Kapolri tidak pernah menerima itu. Dulu waktu menjadi Kapolda Papua, Kapolri juga pernah mengalami hal yang sama dan sudah diklarifikasi,” jelas Muhammad Iqbal.

Mengenai bantahan Humas Mabes Polri, Bambang menegaskan KPK tetap perlu memeriksa Tito. Menurutnya, pemeriksaan terhadap Tito sangat diperlukan guna mengkonfirmasi bantahan Iqbal terkait aliran dana panas tersebut. “Untuk mendapatkan konfirmasi soal klaim Muhammad Iqbal,” ujarnya.
suratkabar.id

Loading...
Loading...